Monday, 10 June 2019

TEBOONLINE.ID - Tak Lapuk Dihujan Tak lekang Dipanas, tradisi lebaran ketupat masih bertahan melekat dan dilestarikan didaerah eks transmigrasi yaitu di Kecamatan Rimbo Ilir, Rimbo Bujang, Rimbo Ulu dan di Kecamatan lainnya di wilayah Kabupaten Tebo.

Pengamat Budaya Rimbo Ilir Tanuji di konfirmasi teboonline.id menyebutkan, pihaknya membenarkan tradisi lebaran ketupat masih dipertahankan dan dilestarikan oleh warga Rimbo Ilir. Lebaran ketupat di Rimbo ilir, akan dilaksanakan pada H + 7 lebaran idul Fitri 1440 hijrah.

"Biasanya warga membuat ketupat dan lepet yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa atau janur diisi beras atau ketan lalu direbus, ketupat dan lepat dengan pasangan opor dan sejenisnya dimakan bersama keluarga dan dibagikan kepada tetangga dekat," kata Budayawan Rimbo Ilir Tanuji, Senin (10/06/2919).

Ketua Lembaga Adat (LAM) Kecamatan Rimbo Bujang H.Sriyono dikonfirmasi mengatakan, tradisi Bodoan atau lebaran ketupat di Rayakan oleh Warga di Rimbo Bujang bakda lebaran ke tujuh idul Fitri 1440 hijrah.

"Budaya lebaran idul Fitri sangat baik mengandung filosofi silaturrahmi rasa kebersamaan dan maaf bermaafan, budaya peninggalan nenek moyang kita ini perlu terus dilestarikan," tutur Ketua Lembaga Adat Rimbo Bujang H.Sriyono.

Sesepuh Kecamatan Rimbo Ulu Budi Purnomo dikonfirmasi menuturkan, menurutnya tradisi atau budaya merayakan hari Raya Ketupat di Kecamatan Rimbo Ulu masih mengakar di masyarakat dan di Rayakan pada H + 5 lebaran idul fitri 1440 hijrah.

"Warga membuat ketupat dan lepet dilengkapi dengan opor dan sejenisnya lantas diantarkan kerumah Ketua RT atau Sesepuh setempat, makanan tradisional tersebut disantap bersama -sama warga setempat sembari bermaaf - maafan," ujar Sesepuh Rimbo Ulu Budi Purnomo.

Menurut sejarah Kanjeng Sunan Kalijaga yang memperkenalkan pada masyarakat Jawa tentang lebaran idul fitri dan lebaran kerupat. Lebaran ketupat dilaksanakan Setelah lebaran idul fitri ke tujuh.

Makna dan arti kata Ketupat atau Kupat singkatan dari ngaku lepat dan laku papat ngaku lepat mengakui kesalahan dan laku papat atau empat tindakan.

Tradisi sungkeman atau halal bi halal merupakan wujud ngaku lepat atau ngaku salah bagi suku jawa, Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan kepada sesama.

Lebaran dilaksanakan menandakan berakhirnya waktu bulan puasa, Luberan Meluber atau melimpah agar melaksanakan sedekah kepada fakir miskin dengan mengeluarkan zakat fitrah.

Leburan berarti sudah habis dan lebur dosa dan kesalahan karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu dengan lainnya.

Laburan ibarat kapur digunakan untuk penjernih air dan  pemutih benda lainnya, agar manusia tetap menjaga kesucian lahir dan batin. (yan)